Dimana Kebahagiaanku ?

  • 0

Apa kata yang pas untuk mengecam sebuah kesenjangan? Apa kata yang tepat untuk mengusir perbedaan?

Malam itu aku diajak sebuah bintang keluar dari kehidupan. Sebut saja bintang itu Trially, yah nama itulah yang dikatakannya sebulan yang lalu. Dan dia selalu memberiku cahaya dan cara agar aku keluar dari kesedihan, walaupun tidak semuanya berhasil . Tapi aku rasa itu keren.
Kala itu aku sedang sangat murung, langsung saja aku terima tawaran Trially untuk berjalan jalan ke keatas. Sesampai disana ia langsung menggerakan tangannya kearah ibu tua yang berjalan tergopoh – gopoh sambil mendorong barang dagangannya. Spontan aku langsung berkata pada Trially “Hei bintang , aku muak dengan kesedihan! Apakah ini hiburan bagiku di saat lara ku mengamuk ?” . Tanpa berkata, wajahnya berpaling ke sebuah diskotik . Dan aku bertanya lagi, “apa maksudmu?, bukan hiburan seperti ini yang aku ingin lihat”. Seakan tidak memperdulikan aku , tangannya menunjuk kearah ibu tua yang lain, ibu tua yang masih kuat untuk minum vodka dan bersenang ria di diskotik. Aku rasa dia sudah terlatih.
“Apalagi maksud dari ini ?". Trially diam saja, aku rasa itu sebuah isyarat untuk menyuruhku diam dan hanya menyaksikan . Aku langsung diam dan tertunduk malu. Aku tampak seperti bocah bodoh dan tolol yang bertanya tanya tentang apa yang kulihat disekelilingku. Lalu ia mengajakku untuk melihat apa yang dia lihat dua puluh tahun yang lalu.
                Disitu aku melihat gadis yang sedang membawa barang dagangannya dan yang lain tak bukan adalah ibu tua tadi. Gadis ini masih muda dan masih memiliki tenaga untuk mengangkat semua dagangannya diatas kepalanya. Aku mulai berpikir apa maksud dari trially menunjukan ini semua padaku, tapi aku tak berkata . Aku takut dia marah dan tersinggung. Aku yakin dia punya rencana. Berselang beberapa detik kemudian, ia menunjukan jari nya kesebuah diskotik dan seperti dugaan yang ada di pikiranku dia menunjukan gadis yang merupakan ibu tua di diskotik. Aku ingin bertanya kepadanya tapi aku masih takut, aku hanya bisa diam dan berpikir. Lalu dia pun menyudutkanku dengan sebuah pertanyaan dan ini untuk yang pertama kalinya dia berkata malam ini “kenapa tidak ada lagi pertanyaan yang kau tanyakan padaku ?” .Aku hanya tertawa kecil dan tak menjawab .
Baru saja selang tiga detik dia menyindirku aku langsung bertanya seolah tak kenal malu, ”kenapa tidak ada keadilan ya ? Gadis ini selalu susah hingga dua puluh tahun, sementara gadis cantik ini tetap saja bersenang senang dan bahagia“.
 “kau belum melihat kebahagiaan dari gadis susah ini . Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan hati karna mendapatkan keluarga yang indah dan tidak seperti gadis cantik ini . Dan jika mereka tetap begini sampai akhir hidup , aku rasa Tuhan akan bersikap adil di alam yang lain nanti” . Dia seperti berceramah menjawab pertanyaanku itu , dia pun menunjukan rumah gadis susah itu dan keluarga nya . aku lihat dan sangat istimewa bisa makan malam dirumah yang sederhana dengan keluarga dibarengi dengan candaan dan kasih sayang . Bibirku terangkat naik dan sedikit merasakan bahagia . Aku membayangkan gadis itu adalah aku , wajahku mulai berseri . “Apa kau sudah mengerti sekarang ?” Tanyanya dengan nada penuh kemenangan .
                Aku malu dan langsung mengubah bentuk wajahku. Ntah kenapa , aku jadi kesal . Setelah aku melihatnya lagi tiba tiba otakku berputar dan menyuruhku untuk marah . Dan dengan sedikit nada tinggi aku bertanya , “Jika mereka memliki kebahagiaan tersendiri , dimana punyaku ?” Mukaku berubah menjadi seperti orang yang baru sadar di hipnotis dan dia telah sadar bahwa semua barangnya telah hilang . Seolah bisu , bintang menatapku dengan cukup aneh , mata nya melotot dan keningnya berkerut tak terbayangkan . Tak puas dengan jawaban raut wajahnya , aku berkata dengan nada lebih tinggi lagi. “Jangan pura – pura bodoh trel . Kau telah disini beratus tahun dan kau pasti telah melihat bagaimana semua tentang aku darisini kan ? Dimana letak kebahagianku yang seharusnya aku miliki? Kenapa aku tidak memiikinya ? Kesalahan apa yang aku lakukan dulu ?” aku nyerocos terus tanpa berhenti tak kuperdulikan lagi sikap bintang yang menyuruhku agar diam . Merepet dan merepet bagai induk ayam kehilangan bayinya , terus mencuap cuap dan memarahinya seolah olah dia Tuhan dan aku bertanya tentang kejelasan takdirku . Lalu Trially menjawab dengan nada pelan dan bijaksana sepertinya dia mencoba menenangkanku “Kita belum tahu masa depan dan berdoalah agar kau dapat yang terbaik.
                Jawaban itu sangat membuat aku tidak puas. Seperti pembagian jatah BLT yang tak adil , begitulah yang aku rasakan . Setelah aku lelah mencuap aku pun diam dan meminta izin agar aku pulang . Diperjalanan pulang raut wajahku lima kali lebih murung dari perjalanan pergiku tadi. Trially tak mengantarku karena aku mengatakan untuk sendiri saja, aku melihat raut wajahnya sangat memelas , aku tau maksudnya itu . Dia pasti merasa sangat menyinggungku dan merasa kasihan padaku . Lalu aku bilang padanya “tidak apa trel , aku oke kok“ . Dan aku beri senyuman yang cukup untuk memastikan keadaan aku . Di perjalanan pulang aku melihat wanita seusia aku bersenang senang di sebuah mall dengan berbelanja berbagai macam kebutuhan palsu . Terang saja aku berang , aku berkata dengan kuat dan sambil menunjuknya “Aku benci kau !” aku harap dia mendengarku.
Lalu aku memalingkan kepalaku melihat keluar mall dan merasa iba ketika lelaki separuh baya baru pulang dari jalanan dan menggandeng sebuah kotak yang berisikan kotak kotak rokok dan sebuah mancis . Tapi aku meilihat wajahnya mulai ceria ketika dia sedang menghitung lipatan uang sepuluh ribu dan ribu – ribuan. Setelah menghitung semua jumlah uangnya dia langsung berlari seperti ketakutan kalau uangnya dicuri orang lain dan menggenggam erat seluruh uangnya. Aku rasa itu uang terbanyak yang didapatnya.
                Dia sudah dekat dengan rumah dan larinya melambat. Dia berada didepan rumah kecil yang beratapkan tepas dan berdinding bambu dan dengan terburu buru dia langsung masuk tanpa salam. Spontan seisi rumah kaget . Didaam ada dua anak laki laki yang mungkin berumur sekitar 10 dan 12 tahun dan wanita yang sudah cukup tua, aku rasa itu ibunya. Dan saat aku perhatikan, takusangka ternyata wanita itu adalah ibu tua yang berjualan tadi. Aku menoleh ke pria itu dan dia memberikan seluruh uangnya ke ibunya.
Dan akhirnya makan malam pun dimulai , inilah yang ditunggu dua anak kecil itu. Setelah dari tadi menunggu abangnya pulang. Tanpa ragu mereka mengambil nasinya dengan tangan karena sendok nasinya masih di pegang ibunya . Ibu tua itu menoleh kearah mereka. Mereka malu dan tertawa. Kecerian dimalam hari pun terjadi . Spontan aku berkata, ”Aku benci kalian!, Aku kira kita sama ternyata berbeda.” Walaupun mereka tak memiliki salah tetap saja aku benci mereka. Saat itu aku seperti berubah menjadi Iblis tingkat 8 yang sangat sedih karena aku melihat orang bahagia. “Padahal aku tadi sudah mencoba untuk tenang”, aku nyerocos lagi diperjalan dan tak henti henti. Bahkan awan hitam takut melihatku. Dia langsung berpaling, aku rasa dia takut kena imbas dari ocehanku ini. Burung yang berkicau pun serentak langsung diam, mereka melihatku penuh iba . Aku rasa mereka mengerti.
                Sesampai dirumah , aku langsung tidur. Tidak merenung lagi seperti malam sebelumnya karena aku tau itu akan menyiksaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

animasi blog