Apa kata yang
pas untuk mengecam sebuah kesenjangan? Apa kata yang tepat untuk mengusir
perbedaan?
![]() |
Kala itu aku
sedang sangat murung, langsung saja aku terima tawaran Trially untuk berjalan
jalan ke keatas. Sesampai disana ia langsung menggerakan tangannya kearah ibu
tua yang berjalan tergopoh – gopoh sambil mendorong barang dagangannya.
Spontan aku langsung berkata pada Trially “Hei bintang , aku muak dengan kesedihan! Apakah ini hiburan bagiku di saat lara ku mengamuk ?” . Tanpa berkata,
wajahnya berpaling ke sebuah diskotik . Dan aku bertanya lagi, “apa maksudmu?, bukan hiburan seperti ini yang aku ingin lihat”. Seakan tidak memperdulikan
aku , tangannya menunjuk kearah ibu tua yang lain, ibu tua yang masih kuat
untuk minum vodka dan bersenang ria di diskotik. Aku rasa dia sudah terlatih.
“Apalagi maksud
dari ini ?". Trially diam saja, aku rasa itu sebuah isyarat untuk menyuruhku
diam dan hanya menyaksikan . Aku langsung diam dan tertunduk malu. Aku tampak
seperti bocah bodoh dan tolol yang bertanya tanya tentang apa yang kulihat
disekelilingku. Lalu ia mengajakku untuk melihat apa yang dia lihat dua puluh
tahun yang lalu.
Disitu
aku melihat gadis yang sedang membawa barang dagangannya dan yang lain tak
bukan adalah ibu tua tadi. Gadis ini masih muda dan masih memiliki tenaga
untuk mengangkat semua dagangannya diatas kepalanya. Aku mulai berpikir apa
maksud dari trially menunjukan ini semua padaku, tapi aku tak berkata . Aku
takut dia marah dan tersinggung. Aku yakin dia punya rencana. Berselang
beberapa detik kemudian, ia menunjukan jari nya kesebuah diskotik dan seperti
dugaan yang ada di pikiranku dia menunjukan gadis yang merupakan ibu tua di
diskotik. Aku ingin bertanya kepadanya tapi aku masih takut, aku hanya bisa
diam dan berpikir. Lalu dia pun menyudutkanku dengan sebuah pertanyaan dan ini
untuk yang pertama kalinya dia berkata malam ini “kenapa tidak ada lagi pertanyaan
yang kau tanyakan padaku ?” .Aku hanya tertawa kecil dan tak menjawab .
Baru saja selang
tiga detik dia menyindirku aku langsung bertanya seolah tak kenal malu, ”kenapa
tidak ada keadilan ya ? Gadis ini selalu susah hingga dua puluh tahun,
sementara gadis cantik ini tetap saja bersenang senang dan bahagia“.
“kau belum melihat kebahagiaan dari gadis
susah ini . Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan hati karna mendapatkan keluarga
yang indah dan tidak seperti gadis cantik ini . Dan jika mereka tetap begini
sampai akhir hidup , aku rasa Tuhan akan bersikap adil di alam yang lain nanti”
. Dia seperti berceramah menjawab pertanyaanku itu , dia pun menunjukan rumah
gadis susah itu dan keluarga nya . aku lihat dan sangat istimewa bisa makan
malam dirumah yang sederhana dengan keluarga dibarengi dengan candaan dan kasih
sayang . Bibirku terangkat naik dan sedikit merasakan bahagia . Aku
membayangkan gadis itu adalah aku , wajahku mulai berseri . “Apa kau sudah
mengerti sekarang ?” Tanyanya dengan nada penuh kemenangan .
Aku
malu dan langsung mengubah bentuk wajahku. Ntah kenapa , aku jadi kesal . Setelah
aku melihatnya lagi tiba tiba otakku berputar dan menyuruhku untuk marah . Dan
dengan sedikit nada tinggi aku bertanya , “Jika mereka memliki kebahagiaan
tersendiri , dimana punyaku ?” Mukaku berubah menjadi seperti orang yang baru
sadar di hipnotis dan dia telah sadar bahwa semua barangnya telah hilang .
Seolah bisu , bintang menatapku dengan cukup aneh , mata nya melotot dan
keningnya berkerut tak terbayangkan . Tak puas dengan jawaban raut wajahnya ,
aku berkata dengan nada lebih tinggi lagi. “Jangan pura – pura bodoh trel .
Kau telah disini beratus tahun dan kau pasti telah melihat bagaimana semua
tentang aku darisini kan ? Dimana letak kebahagianku yang seharusnya aku miliki? Kenapa aku tidak memiikinya ? Kesalahan apa yang aku lakukan dulu ?” aku
nyerocos terus tanpa berhenti tak kuperdulikan lagi sikap bintang yang
menyuruhku agar diam . Merepet dan merepet bagai induk ayam kehilangan bayinya
, terus mencuap cuap dan memarahinya seolah olah dia Tuhan dan aku bertanya tentang
kejelasan takdirku . Lalu Trially menjawab dengan nada pelan dan bijaksana
sepertinya dia mencoba menenangkanku “Kita belum tahu masa depan dan berdoalah
agar kau dapat yang terbaik.
Jawaban
itu sangat membuat aku tidak puas. Seperti pembagian jatah BLT yang tak adil ,
begitulah yang aku rasakan . Setelah aku lelah mencuap aku pun diam dan meminta
izin agar aku pulang . Diperjalanan pulang raut wajahku lima kali lebih murung
dari perjalanan pergiku tadi. Trially tak mengantarku karena aku mengatakan
untuk sendiri saja, aku melihat raut wajahnya sangat memelas , aku tau
maksudnya itu . Dia pasti merasa sangat menyinggungku dan merasa kasihan padaku
. Lalu aku bilang padanya “tidak apa trel , aku oke kok“ . Dan aku beri senyuman
yang cukup untuk memastikan keadaan aku . Di perjalanan pulang aku melihat
wanita seusia aku bersenang senang di sebuah mall dengan berbelanja berbagai
macam kebutuhan palsu . Terang saja aku berang , aku berkata dengan kuat dan
sambil menunjuknya “Aku benci kau !” aku harap dia mendengarku.
Lalu aku
memalingkan kepalaku melihat keluar mall dan merasa iba ketika lelaki separuh
baya baru pulang dari jalanan dan menggandeng sebuah kotak yang berisikan kotak
kotak rokok dan sebuah mancis . Tapi aku meilihat wajahnya mulai ceria ketika
dia sedang menghitung lipatan uang sepuluh ribu dan ribu – ribuan. Setelah
menghitung semua jumlah uangnya dia langsung berlari seperti ketakutan kalau uangnya
dicuri orang lain dan menggenggam erat seluruh uangnya. Aku rasa itu uang
terbanyak yang didapatnya.
Dia
sudah dekat dengan rumah dan larinya melambat. Dia berada didepan rumah kecil
yang beratapkan tepas dan berdinding bambu dan dengan terburu buru dia langsung
masuk tanpa salam. Spontan seisi rumah kaget . Didaam ada dua anak laki laki
yang mungkin berumur sekitar 10 dan 12 tahun dan wanita yang sudah cukup tua,
aku rasa itu ibunya. Dan saat aku perhatikan, takusangka ternyata wanita itu
adalah ibu tua yang berjualan tadi. Aku menoleh ke pria itu dan dia memberikan
seluruh uangnya ke ibunya.
Dan akhirnya
makan malam pun dimulai , inilah yang ditunggu dua anak kecil itu. Setelah
dari tadi menunggu abangnya pulang. Tanpa ragu mereka mengambil nasinya dengan
tangan karena sendok nasinya masih di pegang ibunya . Ibu tua itu menoleh
kearah mereka. Mereka malu dan tertawa. Kecerian dimalam hari pun terjadi .
Spontan aku berkata, ”Aku benci kalian!, Aku kira kita sama ternyata
berbeda.” Walaupun mereka tak memiliki salah tetap saja aku benci mereka. Saat
itu aku seperti berubah menjadi Iblis tingkat 8 yang sangat sedih karena aku
melihat orang bahagia. “Padahal aku tadi sudah mencoba untuk tenang”, aku
nyerocos lagi diperjalan dan tak henti henti. Bahkan awan hitam takut melihatku. Dia langsung berpaling, aku rasa dia takut kena imbas dari ocehanku ini.
Burung yang berkicau pun serentak langsung diam, mereka melihatku penuh iba .
Aku rasa mereka mengerti.
Sesampai
dirumah , aku langsung tidur. Tidak merenung lagi seperti malam sebelumnya
karena aku tau itu akan menyiksaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar