Berjalan
tergopoh-gopoh dibawah terik, kaki terseok-seok menyeret tanah. Memandang alam
penuh murka. Dipandang serangga penuh tawa. Tapi aku tetap kokoh, walaupun
semua yang kubangun seketika roboh terkena angin yang dibuat kepakan sayap
burung.
Dedaunan menatapku
dengan wajah yang tertegun, mungkin mereka melihat kegigihan, mungkin mereka
melihat usaha tiada akhir. Tapi aku sama sekali tak tersenyum. Bibirku tetap
saja datar tak berlekuk , tak berniat untuk merekah dipuji dedaunan dgn indah.
Karna aku tak ingin mereka tertegun oleh puluhan usaha yang kubangun tetapi
hambruk tanpa sisa. Aku ingin mereka tersenyum, oleh kemenangan yang kuukir
dalam kebanggaan yang sempurna. Walaupun entah kapan itu terjadi.
Tetapi satu
pintaku , ketika aku telah melakukannya yang untuk kesekian kalinya, lalu gagal
yang untuk kesekian kalinya. Berhentilah melihatku! Jangan berkata padaku! Aku
muak dengan kata penyemangat yang kalian lontarkan. Kata penyemangat bertopeng
seolah ikut merasakan penderitaanku dan ditambah dgn senyuman untuk membuatku
tersenyum. Aku tau itu palsu. Dibalik serangkaian kata itu aku melihat dgn
jelas hinaan dan kepuasan yang dapat kalian dapatkan dgn melihat rona
wajahku. Dan diantara kalian berkata
“sabar saja, mungkin belum waktunya”.
Lalu kapan? Sebuah pertanyaan tepat penuh dgn
kekuatan. Merangkai seolah olah dapat melangkah diatas takdir. Kapan aku bisa
seperti kau dan kalian yang menghina dan mencemoohkanku dibalik kata
penyemangat itu yang bisa melakukanya dengan sekali usaha? Bahkan tanpa usaha.
Aku letih, aku letih berkomentar. Aku letih bertengkar dgn kata kata. Dan aku
letih berceloteh pada Tuhan.
Tapi ironinya
setelah puluhan kegagalan tanpa akhir, aku malu untuk menyerah. Aku malu untuk
berkata kalah. Dan terlalu malu untuk melanggar janji yang dulu pernah kubuat
dgn nada tinggi seakan akan aku mudah melakukannya. Aku akan terus menepati itu
ditambah dendamku dengan hinaan mereka yang akan kubayar dgn kemenangan dan
jika aku suatu saat berhenti, maka aku telah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar