"Terkutuklah kau!" Itu adalah makian Maja dalam renungannya dipekat malam ini. Dia telah merenung dan memaki ribuan kali dalam hidupnya. Wajahnya yang terlihat lebih tua dari usianya itu selalu meraut tajam, sangat terlihat bahwa dia membenci kehidupan.
Dia memegang erat tangan gadis kecil yang berbaring di sebelahnya, membelainya penuh hangat seolah dia tidak pernah merasakan bosan untuk melakukannya. Bibir gadis itu pucat tak bewarna. Dia tertidur pulas dengan sangat nyaman merasakan kenikmatan kasur kardus yang telah mereka buat bersama. Maja hanya bisa bergumam, "kenapa?". Sebuah kata jutaan makna, sebuah kata yang menantang takdir, sebuah kata yang ingin alasan jelas. Ibu mereka telah meninggal 4 bulan lalu, bekerja terlalu keras adalah penyebab utamanya. Dan ayahnya telah meninggalkan Ibu 5 thn yang lalu. Biduan muda adalah perusaknya. Mereka tak pernah mendengar kabar ayahnya. Maja sangat membenci lelaki itu.
Maja juga sangat bertanggung jawab pada adiknya. Mengutip botol bekas lalu menjualnya kepada barang bekas itu adalah satu-satunya cara Maja berdiri dijalan takdir dan semakin membuat adiknya bangga. Maja tak pernah tau adiknya sakit apa, yang pasti dia tau kalau adiknya telah berbaring dibawah bangunan tua selama 2 minggu. Dan kini, Maja tak tau lagi harus apa. Berdoa, berusaha, sabar dan semuanya telah dilakukannya dengan sempurna. Tapi hasilnya nihil.
Dalam hatinya, dia selalu menyalahkan ayahnya dalam kehidupan ini. Si lelaki penuh napsu birahi dan biadab itu ingin sekali dibunuhnya. Tapi sekarang Maja telah lupa wajahnya, semua kenangan indah dgn ayahnya terkikis amarah dan waktu. Dan setiap ingin tidur dia selalu merenung tentang ayahnya dan selalu memaki lelaki penuh napsu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar