Terperungkup kata kata. Mungkin itu adalah kata awal dari cerita klasik aku kemarin sore. Dimulai dengan kecantikan yang tak dapat terucapkan seseorang wanita yang tinggi, putih, dengan wangi yang segar, rambut terberai panjang tak berliku dan dengan sebuah pita merah kupu - kupu tetapi dengan wajah kusam dan cemberut. Kami berpapasan sejenak. Aku melihatnya dengan tatapan serigala mengikat mangsa. Tak berhenti dan tak beralih. Aku memperhatikan setiap gerakan yang dibuatnya.
Sebaliknya, dia melihatku dengan tatapan pecundang. Melihat segala kedekilanku dari bawah hingga atas kepalaku. Dan dia hanya melihatku sekitar dua detik dan beralih ke depan.
Kuakui dia sempurna, aku terima tatapan pecundang dia terhadapku. Aku tetap melihatnya hingga 7 langkah kedepan jalanku. Aku tak mau kehilangan dia terlalu jauh. Jiwa lelakiku muncul, aku masih memegang prinsip mendekati dan tak tau malu. Aku sadar akan perbedaan keadaan, tapi apa salahnya kucoba. Akhirnya aku berjalan memutar arah dan mendekatinya. Agar lebih cepat aku berlari, tetapi aku beralasan membeli siomay yang sedang memarkir gerobak kebutnya di sudut jalan. Aku merelakan membeli siomay walaupun aku masih sangat kenyang dan tak bersemangat untuk makan apapun saat itu. Dan keluarlah jiwa lelaki ku. Lebih tepatnya jiwa tak tau malu ku. "Hei, mbak mau siomay?" Awalnya aku kira itu tawaran yang cukup pantas. Tetapi melihat expresi muka wanita tadi aku terdiam dan otakku membuat keributan dengan kumpulan tanya.
Sangat tidak elegan sekali, wanita dengan segala keindahan diajak makan siomay jalanan. Aku diam saja sambil tetap melihatnya dan menahan malu. Wajahnya tersenyum sekecil mungkin karena melihat aku malu.
Dan senyuman itu cukup mampu memusnahkan rasa malu dan membangkitkan semangat menggebu. Tetapi akhirnya kekecewaanku muncul, sebuah mobil honda jazz menelekson dan mampu memberhentikan langkah wanita sempurna itu. Keluarlah sesorang lelaki yang aku rasa itu lelakinya, dengan sebuah baju butik yang aku rasa itu sangat mahal harganya. Wanita itu memeluknya erat dan bertanya menggebu - gebu ,"ini untuk aku kan ? kita balikan kan sayang?" Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu wanita itu berkata, "Aku lapar , kita makan yuk. Kamu bayarin ya"
Aku hanya dapat melihat dari bangku yang bergeming di depan gerobak siomay. Saat itu aku merasakan seperti dalam panci masakan sup. Panas, sedih, kecewa, puas, tertawa.
Panas saat wanita indah itu memeluk pacarnya dan balikan, walaupun aku hanya pengagum keindahannya.
Sedih dan kecewa karena aku tidak memiliki apapun yang menarik, sehingga tidak ada kesempatan bagiku untuk menyentuh dan menggapai wanita indah itu.
Puas dan tertawa seketika aku melihatnya lagi sambil berkata dalam hati. Anggap saja aku pihak ketiga dari aku dan wanita itu. "Siapa yang pecun-dang sekarang, hah? Kau hanya indah dengan fisikmu"
Tanpa basa basi aku langsung menghabiskan siomayku. Karena semua pemikiran , hipotesa dan diagnosaku membuatku menjadi lapar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar