Bangun di saat aku sedang menikmati tidur.
Yah begitulah setiap hariku .
Disaat sang penguasa tidur pulas, aku harus berdiri dari tidurku dengan wajah murung dan seringai tak ikhlas.
Pikiranku terus melayang ke jenjang keadilan Tuhan.
Dari mulai aku bisa berpikir , aku selalu memikirkan kenapa aku terlahir tidak indah.
Aku telah menanyakan itu ribuan kali. Pertanyaannya sama, "kenapa aku adalah aku". Aku juga bertanya pada batinku, kenapa aku setuju diciptakan? Kenapa aku tidak diciptakan sebagai kupu-kupu? Indah, bebas dan tak memikirkan tanggung jawab.
Yah begitulah setiap hariku .
Disaat sang penguasa tidur pulas, aku harus berdiri dari tidurku dengan wajah murung dan seringai tak ikhlas.
Pikiranku terus melayang ke jenjang keadilan Tuhan.
Dari mulai aku bisa berpikir , aku selalu memikirkan kenapa aku terlahir tidak indah.
Aku telah menanyakan itu ribuan kali. Pertanyaannya sama, "kenapa aku adalah aku". Aku juga bertanya pada batinku, kenapa aku setuju diciptakan? Kenapa aku tidak diciptakan sebagai kupu-kupu? Indah, bebas dan tak memikirkan tanggung jawab.
Mungkin aku makhluk yang paling sial jika aku "si penuh kemiskinan" dan mereka "si penuh kebahagiaan" masuk dalam tempat yang sama di akhir nanti.
Anggap saja aku, yang tak punya segalanya, bekerja dengan meluapnya segala keringat demi meneruskan hidupku. Tak ada yang mau mendekatku. Sehingga membuat aku terjerat kedalam dendam. Mencaci segala yang lebih dariku. Munafik! karena aku tak berani mengatakan kebencianku dihadapan para penguasa. Bandingkan dengan mereka yang andai saja terlahir indah, penuh dengan bahagia dan perhatian, walau selalu memakiku , tak punya segala perasaan terhadapku dan orang sepertiku.
Lalu akhirnya kami di tempatkan didunia yang sama di akhirat. Sungguh tidak adil sekali. Kenapa tidak aku saja yang terlahir seperti mereka? Setidaknya agar aku merasakan kenikmatan hidup walaupun alam dunia.
Sudah tidak bisa dihindarkan lagi kalau aku si tak punya segalanya menjadi pendendam, pemberontak dan munafik. Kau kira menahan agar tidak mengeluh itu mudah? Dan kau kira, tetap bersyukur ketika hidup penuh tekanan, penindasan dan kelaparan itu mudah? Aku rasa lebih mudah menahan makanan yang manis manis agar tidak terkena diabetes. Dan aku yakin lebih mudah diet dari pada tidak ada makanan yang mau dimakan. Apa? Kau bilang aku miskin karena aku tak mau berusaha? Sekeras apapaun yang aku perbuat, aku lakukan, aku kerjakan, jika Tuhan tidak mengizinkan aku kaya, maka aku tetap miskin! Apa? Kau mau berkata bahwa semua itu berawal dari susah susah dahulu? Semua berawal dari yang terkecil? Lalu kau ingin menunjukan padaku contoh percobaan yang dilakukan Albert Enstein mengenai ribuan kegagalannya? Dan segala seluk beluk tokoh orang berhasil yang awalnya dari kegagalan dan kehancuran? Iya?
Kenapa tidak ada yang menunjukan kakek tua yang awalnya petani sampai akhir hayatnya juga petani , kenapa tidak ada yang menunjukan kisah si miskin dari lahir hingga mati juga miskin. Padahal jauh lebih banyak kisah itu dari pada kisah yang lainnya. Padahal tidak sedikit dari mereka yang juga berusaha keras, tidak sedikit dari mereka yang pantas disebut pejuang kehidupan. Lalu apalagi alasanmu?
Apa kau bisa melihat kebahagiaanku? Dimana kenikmatan aku hidup?
Tuhan, aku telah letih berkata kata.
Semua saraf di otak aku telah penuh dengan kata keadilan , Tuhan , kemiskinan , kedendaman , kerja keras , makanan tetapi kata yang sangat mendominasi di seluruh nadiku adalah kata "kenapa".
Tuhan, aku telah letih berkata kata.
Semua saraf di otak aku telah penuh dengan kata keadilan , Tuhan , kemiskinan , kedendaman , kerja keras , makanan tetapi kata yang sangat mendominasi di seluruh nadiku adalah kata "kenapa".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar