Time Will Heal

  • 0
Sepertinya menulis bukan lagi hobiku. Yah, sepertinya aku memang tidak pernah hobi menulis. Aku menulis hanya untuk meluapkan kesedihan. Dan sepertinya aku sedang menikmatinya sekarang.

Dulu aku terbiasa meminum segelas Milo sambil bersandar di bangku belajar. Meluapkan murka diatas tuts keyboard sambil bergaya tegar. Memaksa otak untuk memilah kata yang tepat sesuai dengan apa yang aku rasa. Kini aku kembali mencoba, tidak ada salahnya memaksa otak lagi. Toh, jika lelah berfikir aku tinggal tidur.

Aku memulai cerita dari pagi tadi di ruangan perpustakaan. Hawa dingin menyerangku tanpa henti. Menguap sana-sini mengisyaratkan bahwa ini waktu yang tepat untuk istirahat. Belum lagi dengan suasana sepi dan ditemani buku-buku. Ah sial, aku semakin ingin tidur saja. Memang sudah bawaan lahir, ketika melihat buku pasti langsung mengantuk. Atau ini sebuah kutukan agar aku selalu bodoh.

Kali ini aku sendiri, hanya ditemani buku-buku jadul perpustakaan yang pernah dipegang oleh mahasiswa pintar. Kupaksakan mataku terbuka untuk membaca buku. Sayangnya tidak bisa, pikiranku masih melanglang buana. Masih terngiang samar-samar wajahmu yang berpaling dariku saat itu. Yah, kita berdebat hebat tentang dua hal cinta dan jodoh. Terbakar api cinta namun tak berjodoh. Aku mengutarakan pendapatku tentang keduanya, aku percaya jodoh itu ditangan Tuhan dan cinta itu ditangan manusia. Alasan aku mengatakannya cukup klasik. Contohnya, siapa sih yang tidak mencintai ibu nya sendiri? Dibesarkan dengan sabar, diajarkan banyak hal, diberi perhatian. Dan kau masih tidak mencintainya? Mungkin ada yang salah dengan hatimu. Alasan yang sama juga ditujukan buatmu, yang selalu sabar, mengarahkanku pada kebaikan, tersenyum saat aku bersedih. Siapa yang tidak cinta?



Sebenarnya aku merasakan kata cinta itu terlalu istimewa. Cinta adalah gabungan dari semua rasa. Dengan cinta kau bisa bersedih, dengan cinta kau bisa tertawa dan dengan cinta kau bisa tersenyum didalam mimpimu. Aku cinta padamu juga dapat diartikan sebagai 'aku sedih karenamu kau menyiksaku', walaupun kebanyakan orang mengartikan 'aku bahagia denganmu'. Dan untuk rasa cintaku kepadamu, aku benar-benar menggabungkan semuanya. Bagiku aku cinta padamu adalah, 'aku bahagia bisa mengenalmu dan aku sangat sedih karena harus berhenti mencintaimu'.

Dan menurutku kata jodoh itu tidak seistimewa cinta, padahal jodoh juga gabungan dari segala rasa. Kau bisa bersedih karena jodoh, bisa juga marah dan berjodoh karena cinta itu sangat membahagiakan. Jodoh itu terkesan sempit. Jika seseorang beristri dua, siapa jodohnya? Dan jika kau sudah jodoh lalu berpisah apakah masih bisa dibilang jodoh? Contohnya, Siapakah jodoh Anang Hermansyah? Krisdayanti atau Ashanty? Siapakah jodoh Ahmad Dhani? Maia Estianti atau Mulan Jameela?

Kalau kau bertanya padaku lebih memilih berjodoh denganmu atau mencintaimu? Tentu saja aku lebih memilih berjodoh. Cinta itu bisa dibuat, cinta itu menutupi kekurangan kan? Seberapa pun kekurangan mu, orang masih bisa mencintaimu kan? Cinta itu puber, jodoh itu dewasa.

Kesimpulannya, oh iya aku lupa. Setiap aku menulis aku tidak pernah menyimpulkannya. Aku hanya berharap aku tidak pernah menulis lagi. Dan berharap waktu dapat mempercepat tugasnya untuk menyembuhkan.

Walaupun aku sudah berfikir terlalu keras untuk memilah kata, tapi aku tetap tidak bisa mencari kata yang tepat untuk menggambarkan suasana ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

animasi blog