Selamat Ulang Tahun, Joni :")

  • 1


Tahun 2000, tahun dimana semua kesedihan itu berawal.

Anak yang pada saat itu seharusnya tidak merasakan kesedihan. Seharusnya mereka semua memanjakannya. Sayangnya semua tidak berjalan seperti seharusnya. Umurnya masih 6 tahun. Tampak imut, lucu dan lugu. Adalah Joni, anak yang kumaksud itu. Kesedihan yang dialaminya tak begitu besar, tapi runcing masuk kedalam jiwa. 

Saat pergi sekolah, dia selalu berjalan dengan gaya yang gagah dan sedikit parlente. Satu persatu teman-teman nya datang di antar orang tua mereka. Ada juga orang tua yang menunggu hingga anaknya pulang sekolah. Dengan gaya yang mantap Joni mendatangi teman-temannya dan berkata "anak mami, padahal udah besar". Disinilah sifat buruk itu muncul. Iri, sedih, depresi. Yah, Joni mengalaminya saat ia berusia belia seperti itu. Aku melihat dengan jelas kekesalan, kedengkian, keirian, kebohongan dan semuanya dari raut wajahnya saat dia berkata tadi.

Kelas pun dimulai, semua anak-anak sibuk membuka buku. Tapi tidak dengan Joni, dia sengaja tidak membuka buku walaupun dia membawa bukunya. Kebodohan seperti ini sering terjadi pada Joni. Satu-satunya alasan Joni melakukannya agar semua 'care' padanya. Terdengar 'klasik' tapi memang itulah yang dimintanya.


Tahun 2006, caranya berubah tapi tujuan tetap sama.
Joni yang saat kecil berlagak sedikit preman kini berubah menjadi bocah 'cengeng'. Sedikit saja kesedihan mengenai jiwanya dia langsung menangis. Aku tau , awalnya dia tidak ingin menangis. Tapi setelah dia coba menangis, dia mendapatkan kehangatan dari orang sekitarnya. Dia sangat ketagihan untuk menangis. Membuat semua orang muak. Tragis memang, dibenci karna penangis. Tepatnya seperti pengemis perhatian.
Di usia remaja, saat dia sudah melihat seluruh keadaan. Dia beridiri kokoh melawan Tuhan. Dia beranggapan, Tuhan mempermainkan dia dan orang-orang yang senasib dengan dia.

Saat itu tahun 2011 dan Joni berulang tahun. Dia sudah melihat apa yang seharusnya diberikan semua orang ketika sesorang berulang tahun. Tapi dia tidak mendapatkannya. Pilu, iya itu pasti. Tekanan batin memuncak. Hasrat amarah menggebu-gebu. "Siapa yang harus dipersalahkan? Orang tuaku? Aku rasa orang tuaku tidak salah. Setiap manusia memiliki hak untuk mecari kebahagiaan masing-masing. Lalu siapa? Tuhan? Mana mungkin Tuhan salah, Tuhan juga punya hak untuk mengatur hidup manusia." Joni berteriak, membentak, dan bertanya pada kaca kamarnya. Iya, hanya kaca itu temannya berbincang.
Seketika terbesit dipikirannya, bahwa ada kado yang pantas yang seharusnya diterimanya. Dia menyusun rencana dengan kaca kamarnya. Mengambil kain dan menutup seluruh mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Untuk pertama kalinya, dia menyakiti teman hidupnya si kaca. Agar dia bisa berubah menjadi senjata mematikan. Dia menggores tangannya dengan kaca. Klasik memang, seperti anak alay. Hanya saja dia tidak memfotonya.
Usahanya pun berhasil, semua keluarga dan saudaranya memberikan rasa sayangnya kepada Joni. Yah, walaupun dengan cara yang berbeda. Dia merasa puas, karna dia melihat orang tuanya nangis bersamaan. Karna dulu, dia hanya bisa melihat kedua orang tuanya mengumpat ngumpat dan memaki.

Kini tepat dua tahun semua terjadi. Kedua orang tua Joni memberikan kado spesial diatas makamnya. Yah, penyesalan memang selalu ada disetiap tangis. Dan sekarang sudah waktunya juga aku mengucapkan selamat ulang tahun untuk Joni. Maaf jon, aku telat :')

1 komentar:

animasi blog