Bagiku perjuangan sesungguhnya bukan melawan Israel dan sekutunya. Bukan juga mengabdi pada negara. Bukan juga mengusung kasus korupsi. Bukan juga mendapatkan wanita idaman dengan segala keseksian nan keindahan. Bukan ini, bukan itu! Bagiku perjuangan itu simple. Perjuangan itu melawan rasa. Maksudku bukan cinta dan/atau kasih. Walaupun untuk mendapatkan rasa dari kamu butuh perjuangan. Tapi bukan itu maksudku. Rasa yang aku maksud adalah rasa malas.
Bagaimana bisa jika aku tidak sanggup melawan rasa malas lalu ingin memperjuangkan Palestina dari kejamnya Israel atau yang paling mudah dari contoh perjuangan tadi, ya mendapatkan kamu. Bagaimana bisa aku si pemalas mendapatkan wanita idaman seperti kamu yang cantik jelita dan anggun bak putri salju yang terdampar di kota keruh ini? Bahkan untuk menemanimu saja aku malas.
Umumnya rasa malas itu sangat erat dengan cinta. Yah seperti rasa malas yang timbul padaku saat ini, ketika Ibu dosen memaksaku mencintai tugas dan lembaran-lembaran fotokopi buku ekonomi yang tertata gagah dibawah meja. Hawa dari buku buku itu langsung bercumbu dan mengumbar kemesraan dengan kemalasanku. Sedangkan kemalasanku satu lagi tetap membuatku diam, yah aku memiliki dua bocah kemalasan yang berpasangan. Kemalasanku yang satu lagi ini membuat aku tetap duduk dipojok kamar sambil menekan tuts keyboard.
Jendela kamar terbuka membuat nyamuk hina masuk ke istanaku. Walaupun nyamuk betina yang gatal ini terus mencumbu kulitku, rasa malasku menolak untuk bergerak dan menutup karpet merah mereka.
Terkadang aku sangat terkesan dengan rasa malasku sendiri. Mereka mampu menahanku agar bisa menahan lapar. Mereka mampu menahanku agar bisa menahan gerahnya tidak terguyuh air selama 3 hari. Mereka mampu menahanku agar mendonorkan darah kotorku pada nyamuk hina.Mereka mampu menahanku agar bisa menahanku kekamar mandi. Bagiku itu seni ! Yah, sepertinya sepasang bocah malas yang mengendap dalam diriku adalah naga-naga yang memiliki artefak. Naga-naga ini memiliki nilai seni yang menjulang tinggi.
Tapi sayangnya hidup ini tak sepenuhnya seni dan yang lebih sayangnya lagi, seni yang aku rasa berbeda dengan seni yang dirasa semua insan. Baru kusadari, hidup ini penuh paksaan dan tuntutan. Hidup ini sangat jauh dari kehidupan seni yang terimpikan naga-nagaku.
---
Saat aku melihat buku ekonomi, aku masih melihat bocah malasku bergandengan tangan dengan hawa buku itu. Dia seolah menertawakan aku. Aku menatapnya marah, seolah ayah yang mendidik anaknya ketika berpacaran. Tapi dia membangkang, aku merasa gagal menjadi ayah untuk mendidik bocah. Dan akhirnya seperti malam sebelumnya. Aku tidak melirik lagi kertas penuh ilmu itu.
Tak sengaja aku melirik bantal dan guling. Dan sialnya mereka menggoda bocah malasku satu lagi. Bocah malasku satu ini tidak independen. Dia mengikat denganku kemanapun aku pergi. Dia menyeret-nyeretku untuk meniduri bantal dan guling itu. Kami sempat membuat kesepakatan bahwa aku hanya boleh meniduri guling dan dia meniduri bantal. Bocah malas penuh nafsu ini memiliki kekuatan dewa untuk memaksaku.
---
Tiba-tiba terbesit namamu, oh rasanya begitu malas untuk mengucapkan selamat malam. Tapi aku akan coba paksa. Selamat Malam ~
---
Tiba-tiba terbesit namamu, oh rasanya begitu malas untuk mengucapkan selamat malam. Tapi aku akan coba paksa. Selamat Malam ~
---
Duuuh keren bangeet :3 :p
BalasHapuskampret wkwk
BalasHapus