Pagi menjelang siang, mata Ina
masih terlilit oleh hitamnya kantuk. Rutinitaslah yang akhir-akhir ini
menggrogoti waktu tidurnya. Mungkin tidak hanya rutinitas, kesedihan juga kerap menjadi alasan utama.
Tapi, mungkin itu sudah biasa. Karena kesedihan sudah menjadi keluarga dalam
rutinitasnya.
Dan kini malam telah menjelang subuh. Dia masih saja dibelai dengan kesedihan. Rasa kantuk siang tadi lenyap terguyur ‘Capuccino’ numero unonya. Dan gilanya, dia masih dapat mendengar suara sumbang dari bang Jek dan gitar pinjamannya itu. Bang Jek seolah ingin mengusir kesedihan yang ingin terjun dari kedua mata Ina. Dan akhirnya dia berhasil melakukannya. Merubah kesedihan Ina menjadi cerca dan makian terhadap genjrengan lagunya di setiap nada.
Setelah puas memaki suara hina dan genjrengan bang Jek dalam hati, Ina memaki kesedihan yang tergendong di pundak untuk segera turun. Sialnya saat Ina ingin berkonsentrasi dan fokus, suara hina bang Jek meninggi (lagi). “Ah, Sial! Ini sangat menganggu. Sepertinya ini suara parau klimaksnya! Sebenarnya bersebelahan kamar dengan bang Jek itu asik asalkan dia punya suara indah dan genjrengan menawan. Tapi sayangnya dia masih tahap newbie.” Dia mengoceh pelan tapi tak karuan dari bibirnya yang tipis itu.
Dia kembali mencoba untuk tenang dan akhirnya dia bisa fokus lagi. Dia masih mencari-cari apa penyebab dari kegelisahan dan kesedihan yang tak kunjung kering itu. Seolah berdiskusi dengan setannya yang terkurung dalam sangkar neraka dijiwanya. Dia bergumam didepan cermin dan berekspresi bak monolog di pentas.
“Mungkinkah dia penyebabnya?”
“Dia? Tentu saja bukan. Dia masih
terlalu lemah untuk bisa menembus batas kesedihanmu.”
“Lalu siapa? Teman?”
“ Bersedih untuk teman? Lucu
sekali kau bodoh. Bukankah kau tau bahwa sebagian dari mereka sangat
membencimu. Untuk apa kau bersedih atas kebencian mereka. Seharusnya kau senang
bahwa temanmu dineraka akan semakin bertambah.”
“Ya, kau benar. Aku bodoh. Dan
berbicara denganmu membuatku semakin terlihat bodoh.”
“Nah, lalu kenapa kau masih
berbicara denganku bodoh? Kau tak juga bodoh, tapi tolol. Hahaha”
Dia juga memperagakan luapan tawa
setan tadi. Akhirnya dia merenung dan mendapat satu hal sebelum tidur. Dia
merelung dan bergumam.
“Yah, aku benar benar bodoh. Dan kurasa kesedihan
itu juga tolol. Gobs.”
Tenang Ina, kamu tidak sendirian,
aku juga merasakannya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar