Friend Zone

  • 0


Hei cantik, cintamu bagai serpihan yang ampas.
Selalu berharap rasamu tak pernah terlintas.
Ku mencintaimu dengan hati indah yang tulus.
Tapi kau membalasnya dengan cara yang tak bagus.


Itu adalah sebuah lirik menawan yang kutulis di secarik kertas saat aku memandangmu sesaat. Hati terombang-ambing, bimbang tak karuan, gelisah tak terhenti, memaki imaji, tak ada damai lagi di hati. Perasaan menggebu-gebu yang tak tersentuh.

Aku ingat kemarin, saat kau duduk berdua denganku, lalu seketika aku memberi sekuntum bunga mawar. Sepontan kau berkata, “untukku?” Pertanyaan tidak logis yang terlontar oleh orang secantikmu. Ya, untukmulah. Untuk siapa lagi? Kamu kira untuk siapa lagi tatapan mataku ini? Kamu kira untuk siapa lagi degupan jantung ini? Sayangnya kau selalu anggap tatapan mata dan degupan jantungku tidak spesial dan hal yang biasa dalam berteman. Yah, teman. Aku benci kata “teman.”
Sudah kucoba untuk tenang. Kucoba tak tergubris ketika topan menghadang. Kucoba tetap bertahan ketika sampan terombang kencang. Sayangnya kau tidak membalasnya. Malah, kau mengirim ombak untuk mengusirku.


Kelam dan kejam. Dua kata yang mengubah wajahku. Mengubah canda menjadi kelu. Mengubah selera hidupku dari  hip hop menjadi goyang oplosan.
Kau tak pantas untuk dibicarakan, membuat luka-luka lama kembali meradang. Membuat ku teringat seribu orang-orang sepertimu yang terjumpa dihidupku. Dan bagiku semua tentang itu pedih.

 Tapi, mungkin seharusnya aku harus bersyukur masih bisa berteman denganmu. Masih bisa mendapatkan keindahan dalam gelapnya duniaku. Aku juga seharusnya bersyukur mendapati diri dalam gelap. Sehingga mudah menemukan cahaya sepertimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

animasi blog