Hei cantik, cintamu bagai serpihan yang ampas.
Selalu berharap rasamu tak pernah terlintas.
Ku mencintaimu dengan hati indah yang tulus.
Tapi kau membalasnya dengan cara yang tak bagus.
Itu adalah sebuah lirik menawan yang kutulis di secarik kertas
saat aku memandangmu sesaat. Hati terombang-ambing, bimbang tak karuan, gelisah
tak terhenti, memaki imaji, tak ada damai lagi di hati. Perasaan menggebu-gebu
yang tak tersentuh.
Aku ingat kemarin, saat kau duduk berdua denganku, lalu seketika aku memberi sekuntum bunga mawar. Sepontan kau berkata, “untukku?”
Pertanyaan tidak logis yang terlontar oleh orang secantikmu. Ya, untukmulah. Untuk
siapa lagi? Kamu kira untuk siapa lagi tatapan mataku ini? Kamu kira untuk
siapa lagi degupan jantung ini? Sayangnya kau selalu anggap tatapan mata dan
degupan jantungku tidak spesial dan hal yang biasa dalam berteman. Yah, teman. Aku
benci kata “teman.”
Sudah kucoba untuk tenang. Kucoba tak tergubris ketika topan
menghadang. Kucoba tetap bertahan ketika sampan terombang kencang. Sayangnya kau
tidak membalasnya. Malah, kau mengirim ombak untuk mengusirku.
Kelam dan kejam. Dua kata yang mengubah wajahku. Mengubah canda menjadi kelu. Mengubah selera hidupku dari hip hop menjadi goyang oplosan.
Kau tak pantas untuk dibicarakan, membuat luka-luka lama kembali
meradang. Membuat ku teringat seribu orang-orang sepertimu yang terjumpa dihidupku. Dan bagiku semua tentang itu pedih.
Tapi, mungkin seharusnya aku harus bersyukur masih bisa
berteman denganmu. Masih bisa mendapatkan keindahan dalam gelapnya duniaku. Aku
juga seharusnya bersyukur mendapati diri dalam gelap. Sehingga mudah menemukan
cahaya sepertimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar